Agen Judi Togel - Bandar Togel Online - Judi Lotto - Agen Toto Online Agen Live Casino Online ituCasino Judi Poker Domino 99 ituQQ
Agen Judi Poker Domino99 dan Ceme Online Indonesia
Bandar Poker Sakong BandarQ Online
Agen Poker BandarQ Online ituPoker
Banner
Forum ZonaLendir
Go Back   Forum ZonaLendir > > >
Register FAQ Members List Calendar Search Today's Posts Mark Forums Read

Notices

Agen Bola Agen Judi Bola, Bandar Bola, Agen Bola, Sbobet, Ibcbet SEKAWANBET │ Master Agen Taruhan Online Terpercaya Terbaik se ASIA Agen Judi Togel - Bandar Togel Online - Judi Lotto - Agen Toto Online

Reply
 
Thread Tools Display Modes
  #1  
Old 12-24-2017, 02:46 AM
ayubecek ayubecek is offline
Junior Member
 
Join Date: Dec 2017
Location: Indonesia
Posts: 9
Cool Kisah Kenikmatan Tubuh Para Perawat Di Bandung Bagian 3 Tamat

Kisah Kenikmatan Tubuh Para Perawat Di Bandung Bagian 3 Tamat - Cerita Becek.


Hari ini adalah hari ke lima setelah kepergian Ratih. Mbak Tia, pengganti sementara Ratih, ternyata adalah adik ipar ayah Rudi. Jadi, adik istri si bapak tua itu. Mbak Tia adalah seorang perempuan Sunda yang ramah. Wajahnya lumayan cantik, kulitnya berwarna hitam manis, badannya agak pendek dan bertubuh montok. Ukuran buah dadanya besar. Jauh lebih besar dari Ratih dan senantiasa berdandan agak menor. Wanita yang berumur hampir 40 tahun itu mengaku belum pernah menikah karena merasa bahwa tak ada laki-laki yang bisa cocok dengan sifatnya yang avonturir. (avonturir adalah orang yang suka melakukan pertualangan)

Saat ini ia bekerja secara freelance di sebuah stasiun televisi sebagai penulis naskah. Kemampuan bergaulku dan keramahannya membuat kami cepat sekali akrab. Lagi-lagi, kamarku itu kini menjadi markas curhatnya Mbak Tia.

"Panggil saya teh Tia aja deh..," katanya suatu kali dengan logat Bandungnya yang kental.
"Kalau gitu panggil saya David aja ya teh.., ngga usah pake pak-pakan segala..," balasku sambil tertawa.

Baru 5 hari kami bergaul, namun sepertinya kami sudah lama saling mengenal. Kami seperti dua orang yang kasmaran, saling memperhatikan dan saling bersimpati. Persis seperti cinta monyet ketika kita remaja. Saat itu seperti biasa, kami sedang ngobrol santai dari hati ke hati sambil duduk di atas ranjangku. Aku memakai baju kaos dan celana pendek yang ketat sehingga tanpa kusadari tekstur penis dan testisku tercetak dengan jelas. Bila kuperhatikan, beberapa kali tampak teh Tia mencuri-curi melirik selangkanganku yang dengan mudah dilihatnya karena aku duduk bersila. Aku sengaja membiarkan keadaan itu berlangsung. Malah kadang-kadang dengan sengaja aku meluruskan kedua kakiku dengan posisi agak mengangkang sehingga cetakan penisku makin nyata saja di celanaku. Sesekali, di tengah obrolan santai itu, tampak teh Tia melirik selangkanganku yang diikuti dengan nafasnya yang tertahan.

Kenapa aku melakukan hal ini? Karena libidoku yang luar biasa, aku jadi tertantang untuk bisa meniduri teh Tia yang aku yakini sudah tak perawan lagi karena sifatnya yang avonturir itu. Dan lagi, dari sifatnya yang ramah, ceria, cerewet dan petualang itu, aku yakin di balik tubuh montok perempuan setengah baya tersimpan potensi libido yang tak kalah besar dengan Ratih.

Juga, gayanya dalam bergaul yang mudah bersentuhan dan saling memegang lengan sering membuat darahku berdesir. Apalagi kalau aku sedang dalam keadaan libido tinggi. Saat ini, teh Tia mengenakan daster berwarna putih tipis sehingga tampak kontras dengan warna kulitnya yang hitam manis itu. Belahan buah dadanya yang besar itu menyembul di balik lingkaran leher yang berpotongan rendah di bagian dada. Dasternya sendiri berpola terusan hingga sebatas lutut sehingga ketika duduk, pahanya yang montok itu terlihat dengan jelas.

Aku selalu berusaha untuk bisa mengintip sesuatu yang terletak di antara kedua paha teh Tia. Namun karena posisi duduknya yang selalu sopan, aku tak dapat melihat apa-apa. Bukan main! Ternyata seorang wanita berusia 40an masih mempunyai daya tarik sexual yang tinggi. Terus terang, baru kali ini aku berani berfantasi mengenai hubungan seks dengan teh Tia. Sementara ia bercerita tentang masa mudanya, pikiranku malah melayang dan membayangkan tubuh teh Tia sedang duduk di hadapanku tanpa selembar benangpun. Alangkah menggairahkannya. Aku seperti bisa melihat dengan jelas seluruh lekuk tubuhnya yang mulus tanpa cacat. Tanpa sadar, penisku menegang dan cairan madzi di ujungnya pun mulai keluar. Celanaku tampak basah di ujung penisku, dan cetakan penis serta testisku semakin jelas saja tercetak di selangkangan celanaku. Membesarnya penisku ternyata tak lepas dari perhatian teh Tia.

Tampak jelas terlihat matanya terbelalak melihat ukuran penisku yang membesar dan tercetak jelas di celana pendekku. Obrolan kami mendadak terhenti karena beberapa saat teh Tia masih terpaku pada selangkanganku.

"Kunaon teh..?," tanyaku memancing.
"Eh.., enteu.., kamu teh mikirin apa sih?," katanya sambil tersenyum simpul.
"Mikirin teh Tia teh.., entah kenapa barusan saya membayangkan teh Tia nggak pakai apa-apa.., aduh indahnya teh..," tiba-tiba saja jawaban itu meluncur dari mulutku.

Aku sendiri terkejut dengan jawabanku yang sangat terus terang itu dan sempat membuatku terpaku memandang wajah teh Tia. Wajah teh Tia tampak memerah mendengar jawabanku itu. Nafasnya mendadak memburu. Tiba-tiba teh Tia bangkit dari duduknya dan berjalan menuju pintu. Ia menutup pintu kamarku dan menguncinya.

Leherku tercekat, dan kurasakan jantungku berdegup semakin kencang. Dengan tersenyum dan sorot mata nakal ia menghampiriku dan duduk tepat di hadapan selangkanganku. Aku memang sedang dalam posisi selonjor dengan kedua kaki mengangkang.

"Vid, kamu pingin sama teteh..? Hmm?," desahnya seraya meraba penis tegangku dari luar celana. Aku menelan ludah sambil mengangguk perlahan dan tersenyum. Entah mengapa, aku jadi gugup sekali melihat wajah teh Tia yang semakin mendekat ke wajahku. Tanpa sadar aku menyandarkan punggungku ke tembok di ujung ranjang dan teh Tia menggeser duduknya mendekatiku sambil tetap menekan dan membelai selangkanganku. Nafas teh Tia yang semakin cepat terasa benar semakin menerpa hidung dan bibirku. Rasa nikmat dari belaian jemari teh Tia di selangkanganku semakin terasa ke ujung syaraf-syarafku. Nafasku mulai memburu dan tanpa sadar mulutku mulai mengeluarkan suara erangan-erangan.

Dengan lembut teh Tia menempelkan bibirnya di atas bibirku. Ia memulainya dengan mengecup ringan, menggigit bibir bawahku, dan tiba-tiba.., Lidahnya memasuki mulutku dan berputar-putar di dalamnya dengan cepat. Langit-langit mulutku serasa geli disapu oleh lidah panjang milik perempuan setengah baya yang sangat menggairahkan itu. Aku mulai membalas ciuman, gigitan, dan kuluman teh Tia. Sambil berciuman, tangan kananku kuletakkan di buah dada kiri teh Tia. Uh.., alangkah besarnya.., walaupun masih ditutupi oleh daster, keempukan dan kekenyalannya sudah sangat terasa di telapak tanganku. Dengan cepat kuremas-remas buah dada teh Tia itu, "Emph.., emph..," rintihnya sambil terus mengulum lidahku dan menggosok-gosok selangkanganku. Mendadak teh Tia menghentikan ciumannya.

Ia menahan tanganku yang tengah meremas buah dadanya dan berkata, "Vid, sekarang kamu diam dulu yah.., biar teteh yang duluan."

Tiba-tiba dengan cepat teh Tia menarik celana pendekku sekalian dengan celana dalamku. Saking cepatnya, penisku yang menegang melejit keluar. Sejenak teh Tia tertegun menatap penisku yang berdiri tegak laksana tugu monas itu.

"Gusti David.., ageung pisan..," bisiknya lirih. Dengan cepat teh Tia menundukkan kepalanya, dan seketika tubuhku terasa dialiri oleh aliran listrik yang mengalir cepat ketika mulut teh Tia hampir menelan seluruh penisku. Terasa ujung penisku itu menyentuh langit-langit belakang mulut teh Tia. Dengan sigap teh Tia memegang penisku sementara lidahnya memelintir bagian bawahnya. Kepala teh Tia naik turun dengan cepat mengiringi pegangan tangannya dan puntiran lidahnya. Aku benar-benar merasa melayang di udara ketika teh Tia memperkuat hisapannya.

Aku melirik ke arah kaca riasku, dan di sana tampak diriku terduduk mengangkang sementara teh Tia dengan dasternya yang masih saja rapi merunduk di selangkanganku dan kepalanya bergerak naik turun. Suara isapan, jilatan dan kecupan bibir perempuan montok itu terdengar dengan jelas.

Kenikmatan ini semakin menjadi-jadi ketika kurasakan teh Tia mulai meremas-remas kedua bola testisku secara bergantian. Perutku terasa mulas dan urat-urat di penisku serasa hendak putus karena tegangnya. Teh Tia tampak semakin buas menghisapi penisku seperti seseorang yang kehausan di padang pasir menemukan air yang segar. Jari-jemarinyapun semakin liar mempermainkan kedua testisku.

"Slurrp.., Cuph.., Mphh..." Suara kecupan-kecupan di penisku semakin keras saja. Nafsuku sudah naik ke kepala. Aku berontak untuk berusaha meremas kedua buah dada montok dan besar milik wanita lajang berusia setengah baya itu, namun tangan teh Tia dengan kuat menghalangi tubuhku dan iapun semakin gila menghisapi dan menjilati penisku.

Aku mulai bergelinjang-gelinjang tak karuan. "Teh Tia.., teeeh, gantian dongg.., please.., saya udah ngga kuaat, aahh.., sss..," erangku seakan memohon. Namun permintaanku tak digubrisnya. Kedua tangan dan mulutnya semakin cepat saja mengocok penisku. Terasa seluruh syaraf-syarafku semakin menegang dan menegang, degup jantungku berdetak semakin kencang.. napaskupun makin memburu.

"Oohh, Teh Tia.., Teh Tiaaaaa, aahh...," Aku berteriak sambil mengangkat pinggulku tinggi-tinggi dan, Crat.., craat.., craat, aku memuncratkan spermaku di dalam mulut teh Tia. Dengan sigap pula teh Tia menelan dan menjilati spermaku seperti seorang yang menjilati es krim dengan nikmatnya.

Setiap jilatan teh Tia terasa seperti setruman-setruman kecil di penisku. Aku benar-benar menikmati permainan ini. "Luar biasa teh Tia."

"Enak Vid..? Hmm?," teh Tia mengangkat kepalanya dari selangkanganku dan menatapku dengan senyum manisnya, tampak di seputar mulutnya banyak menempel bekas-bekas spermaku.

"Fuhh nikmatnya sperma kamu Vid..," bisiknya mesra seraya menjilat sisa-sisa spermaku di bibirnya.
"Obat awet muda ya teh..," kataku bercanda.
"Yaa gitulah, antosan sekedap nya? Biar teteh ambilkan minum buat kamu."

Oh my God... benar-benar seorang wanita yang penuh pengabdian, dia belum mengalami orgasme apa-apa tapi perhatiannya pada pasangan lelakinya luar biasa besar, sungguh pasangan seks yang ideal! Kenyataan itu saja membuat rasa simpati dan birahiku pada teh Tia kembali bergejolak.

Teh Tia kembali dari luar membawa segelas air. "Minum deh.., biar kamu segeran."
"Nuhun teh.., tapi janji ya abis ini giliran saya muasin teteh."

Aku meneguk habis air dingin buatan teh Tia dan saat itu pula aku merasakan kejantananku kembali. Birahiku kembali bergejolak melihat tubuh montok teh Tia yang ada di hadapanku. Aku meraih tangan teh Tia dan dengan sekali betot kubaringkan tubuhnya yang molek itu di atas ranjang.

"Eeehh.., pelan-pelan Vid..," teriak teh Tia dengan geli. "Teteh mau diapain sih," lanjutnya manja. Tanpa menjawab, aku menindih tubuh montok itu, dan sekejap kurasakan nikmatnya buah dada besar itu tergencet oleh dadaku. Juga, syaraf-syaraf sekitar pinggulku merasakan nikmatnya penisku yang menempel dengan gundukan vaginanya walaupun masih ditutupi oleh daster dan celana dalamnya.

Kupandangi wajah teh Tia yang bundar dan manis itu. Kalau diperhatikan, memang sudah terdapat kerut-kerut kecil di daerah mata dan keningnya. Tapi peduli setan! Teh Tia adalah seorang wanita setengah baya yang paling menggairahkan yang pernah kulihat. Pancaran aura sexualnya sungguh kuat menerangi sanubari lelaki yang memandangnya.

"Teteh mau tau apa yang ingin saya lakukan terhadap teteh?," Kataku sambil tersenyum. "Saya akan memperkosa teteh sampai teteh ketagihan." Lalu dengan ganas, aku memulai menciumi bibir dan leher teh Tia. Teh Tiapun dengan tak kalah ganasnya membalas ciuman-ciumanku.

Keganasan kami berdua membuat suasana kamarku menjadi riuh oleh suara-suara kecupan dan rintihan-rintihan erotis. Dengan tak sabar aku menarik resleting daster teh Tia, kulucuti dasternya, BHnya, dan yang terakhir.., celana dalamnya.

Wow.., sebuah gundukan daging tanpa bulu sama sekali terlihat sangat menantang terletak di selangkangan teh Tia. My God.., alangkah indahnya vagina teh Tia itu.., tak pernah kubayangkan bahwa ia mencukur habis bulu kemaluannya.

"Kamu juga buka semua dong Vid," rengeknya sambil menarik baju kaosku ke atas. Dalam sekejap, kami berdua berdua berpelukan dan berciuman dengan penuh nafsu dalam keadaan bugil! Sambil menindih tubuhnya yang montok itu, bibirku menelusuri lekuk tubuh teh Tia mulai dari bibir, kemudian turun ke leher, kemudian turun lagi ke dada, dan terus ke arah puting susu kirinya yang berwarna coklat kemerah-merahan itu.

Alangkah keras puting susunya, alangkah lancipnya.., dan "mmhh..," seketika itu juga kukulum, kuhisap dan kujilat puting kenyal itu.., karena gemasnya, sesekali kugigit juga puting itu.

"Auuhh.., vid.., gellii.., sss.., ahh," rintihnya ketika gigitanku agak kukeraskan. Badan montoknya mulai mengelinjang-gelinjang ke sana ke mari.., dan mukanya menggeleng-geleng ke kiri dan ke kanan. Sambil menghisap, tangan kananku merayap turun ke selangkangannya. Dengan mudah kudapati vaginanya yang besar dan sudah sangat becek sekali. Akupun dengan sigap memain-mainkan jari tengahku di pintu vaginanya. Crks.., crks.., crks, terdengar suara becek vagina teh Tia yang berwarna lebih putih dari kulit sekitarnya.

Ketika jariku mengenai gundukan kecil daging yang mirip dengan sebutir kacang, ketika itu pula wanita setengah baya itu menjerit kecil. "Ahh.., geli Vid.., gelli." Putaran jariku di atas clitoris teh Tia dan hisapanku pada kedua puting buah dadanya makin membuat lajang montok berkulit hitam manis itu semakin bergelinjang dengan liar.

"Vid.., masukin sekarang Vid.., sekarang.., please.., teteh udah nggak tahan... ahh." Kulihat wajah teh Tia sudah meringis seperti orang kesakitan. Ringisan itu untuk menahan gejolak orgasmenya yang sudah hampir mencapai puncaknya. Dengan sigap kuarahkan penisku ke vagina montok milik teh Tia.., kutempelkan kepala penisku yang besar tepat di bawah clitorisnya, kuputar-putarkan sejenak dan teh Tia meresponnya dengan mengangkangkan pahanya selebar-lebarnya untuk memberi kemudahan bagiku untuk melakukan penetrasi. saat itu pula kusodokkan pantatku sekuat-kuatnya dan, Blesss, masuk semuanya! "Aahh...." Teh Tia menjerit panjang. "Besar betul Vid.., auhh., besar betuull, duh gusti enaknya.., aahh...."

Dengan penuh keganasan kupompa penisku keluar masuk vagina teh Tia. Dan iapun dengan liarnya memutar-mutar pinggulnya di bawah tindihanku. Astaga, benar-benar pengalaman yang luar biasa! Bahkan keliaran teh Tia melebihi ganasnya Mbak Ratih, luar biasa! Kedua tubuh kami sudah sangat basah oleh keringat yang bercampur liur. Kasurkupun sudah basah di mana-mana oleh cairan mani maupun lendir yang meleleh dari vagina teh Tia, namun entah kekuatan apa yang ada pada diri kami, kami masih saling memompa, merintih, melenguh, dan mengerang. Bunyi ranjangkupun sudah tak karuan, Kriet.., kriet.., krieeet, sesuai irama goyangan pinggul kami berdua.

Penisku yang besar itu masih dengan buasnya menggesek-gesek vagina teh Tia yang terasa sempit namun becek itu. Setelah lebih dari 15 menit kami saling memompa, tiba-tiba kurasakan seluruh tubuh teh Tia menegang.

"Vid, Vid, Teteh mau keluar..."
"Iya teh, saya juga, kita keluar sama-sama teh."

Goyanganku semakin kupercepat dan pada saat yang bersamaan kami berdua saling berciuman sambil berpelukan erat, aku menancapkan penisku dalam-dalam dan teh Tia mengangkat pinggulnya tinggi-tinggi, Crat.., crat.., crat.., crat, kami berdua mengerang dengan keras sambil menikmati tercapainya orgasme pada saat yang bersamaan. Kami sudah tak peduli bila seisi rumah akan mendengarkan jeritan-jeritan kami, karena aku yakin teh Tiapun tak pernah merasakan kenikmatan yang luar biasa ini sepanjang hidupnnya.

"Ahh.., Vid.., kamu hebaat.., kamu hebaathh.., hh.., Teteh ngga pernah ngerasain kenikmatan seperti ini."
"Saya juga teh.., terima kasih untuk kenikmatan ini..," kataku seraya mengecup kening teh Tia dengan mesra.
"Mau tau suatu rahasia Vid?," tanyanya sambil membelai rambutku,
"Teteh sudah lima tahun tidak bersentuhan dengan laki-laki.., tapi entah kenapa, dalam 5 hari bergaul dengan kamu.., teteh tidak bisa menahan gejolak birahi teteh.., ngga tau kenapa.., kamu itu punya aura seks yang luar biasa." Teh Tia bangkit dari ranjangku dan mengambil sesuatu dari kantong dasternya.

"Sebutir pil KB. Seperti punya firasat, teteh sudah minum pil ini sejak 3 hari yang lalu," katanya tersenyum,
"Dan akan teteh minum selama teteh ada di sini..," Teh Tia mengedipkan matanya padaku dengan manja sambil memakai dasternya.
"Selamat tidur sayang."

Teh Tia melangkah keluar dari kamarku. Teh Tia memang luar biasa. Ia bukan saja dapat menggantikan kedudukan Ratih sebagai partner seks yang baik, tetapi juga memberi sentuhan-sentuhan kasih sayang keibuan yang luar biasa. Aku benar-benar dimanja oleh wanita setengah baya itu. Fantasi sexualnya juga luar biasa. Mungkin itu pengaruh dari pekerjaannya sebagai penulis cerita drama. Coba bayangkan, ia pernah memijatku dalam keadaan bugil, kemudian sambil terus memijat ia bisa memasukkan penisku ke dalam vaginanya, dan aku disetubuhi sambil terus menikmati pijatan-pijatannya yang nikmat. Ia juga pernah meminta aku untuk menyetubuhinya di saat ia mandi pancuran di kamar mandi dan kami melakukannya dengan tubuh licin penuh sabun. Dan yang paling sensasional adalah, sore itu aku sudah berada di rumah. Karena load pekerjaan di kantorku tidak begitu tinggi, aku sengaja pulang cepat.

Selesai mandi aku duduk di meja makan sambil menikmati pisang goreng buatan teh Tia. Perempuan binal itu memang luar biasa. Ia melayaniku seperti suaminya saja. Segala keperluan dan kesenanganku benar-benar diperhatikan olehnya. Seperti biasa, aku mengenakan baju kaos buntung dan celana pendek longgar kesukaanku dan (seperti biasa juga) aku tidak menggunakan celana dalam. Kebiasaan ini kumulai sejak adanya teh Tia di rumah ini, karena bisa dipastikan hampir tiap hari aku akan menikmati tubuh sintal adik ipar ayah si Rudi itu. Sore itu sambil menikmati pisang goreng di meja makan, aku bercakap-cakap dengan ayah Rudi. Orang tua itu duduk di pojok ruangan dekat pintu masuk untuk menikmati semilirnya angin sore kota Bandung. Jarak antara aku dengannya sekitar 6 meter. Sambil bercakap-cakap mataku tak lepas dari teh Tia yang mondar mandir menyediakan hidangan sore bagi kami. Entah ke mana PRT kami saat itu.

Teh Tia mengenakan celana pendek yang ditutupi oleh kaos bergambar Mickey Mouse berukuran ekstra besar sehingga sering tampak kaos itu menutupi celana pendeknya yang memberi kesan teh Tia tidak mengenakan celana. Aku berani bertaruh perempuan itu tidak menggunakan BH karena bila ia berjalan melenggang, tampak buah dadanya bergayut ke atas ke bawah, dan di bagian dadanya tercetak puting buah dadanya yang besar itu. Tanpa sadar batang penisku mulai membesar.

Setelah selesai dengan kesibukannya, teh Tia duduk di sebelah kiriku dan ikut menikmati pisang goreng buatannya. Kulihat ia melirik ke arahku sambil memasukkan pisang goreng perlahan-lahan ke dalam mulutnya. Sambil mengedipkan matanya, ia memasukkan dan mengeluarkan pisang goreng itu dan sesekali menjilatnya. Sambil terus berbasa basi dengan orang tua Rudi, aku menelan ludah dan merasakan bahwa urat-urat penisku mulai mengeras dan kepala penisku mulai membesar.

Tiba-tiba kurasakan jari jemari kanan teh Tia menyentuh pahaku. Lalu perlahan-lahan merayap naik sampai di daerah penisku. Dengan gemas teh Tia meremas penis tegangku dari luar celanaku sehingga membuat cairan beningku membuat tanda bercak di celanaku.

Setelah beberapa lama meremas-remas, tangan itu bergerak ke daerah perut dan dengan cepat menyelip ke dalam celana pendekku. Aku sudah tidak tahu lagi apa isi percakapan orang tua Rudi itu. Beberapa kali ia mengulangi pertanyaannya padaku karena jawabanku yang asal-asalan. Degup jantungku mulai meningkat. Jemari lentik itu kini sudah mencapai kedua bolaku. Dengan jari telunjuk dan tengah yang dirapatkan, perempuan lajang itu mengelus-elus dan menelusuri kedua bolaku.

Mula-mula berputar bergantian kiri dan kanan kemudian naik ke bagian batang, terus bergerak menelusuri urat-urat tegang yang membalut batang kerasku itu, "sss, teteh." Aku berdesis ketika kedua jarinya itu berhenti di urat yang terletak tepat di bawah kepala penisku, itu memang daerah kelemahanku, dan perempuan sintal ini mengetahuinya, kedua jemarinya menggesek-gesekkan dengan cepat urat penisku itu sambil sesekali mencubitnya.

"Aahh," erangku ketika akhirnya penisku masuk ke dalam genggamannya.
"Kenapa David?," orang tua yang duduk agak jauh di depanku itu mengira aku mengucapkan sesuatu.
"E, ee, ndak apa-apa Pak," Jawabku tergagap sambil kembali meringis ketika teh Tia mulai mengocok penisku dengan cepat.

Gila perempuan ini! Dia melakukannya di depan kakaknya sendiri walaupun tidak kelihatan karena terhalang meja.

"Saya cuma merasa segar dengan udara Bandung yang dingin ini," jawabku sekenanya.
"Ooo begitu, saya pikir kamu sakit perut, habis tampangmu meringis-meringis begitu," orang tua itu terkekeh sambil memalingkan mukanya ke jalan raya.

Begitu kakaknya berpaling, teh Tia dengan cepat merebahkan kepalanya ke pangkuanku sehingga dari arah ayah Rudi, teh Tia tak tampak lagi. Dengan cepat tangannya memelorotkan celanaku sehingga penisku yang masih digenggamnya dengan erat itu terasa dingin terterpa angin.

Sejenak perempuan itu memandang penis besarku itu, ia selalu memberikan kesempatan pada matanya untuk menikmati ukuran dan kekokohannya. Kemudian teh Tia menjulurkan lidahnya dan mulai menjilat mengelilingi lubang penisku, kemudian ia memasukkan ujung lidahnya ke ujung lubang penisku dan mengecap cairan beningku, lalu lidahnya diturunkan lagi-lagi ke urat di bawah penisku.

Aku mulai menggelinjang-gelinjang tak karuan, walaupun dengan hati-hati takut ketahuan oleh kakak teh Tia yang duduk di depanku. Tanganku mulai meraba-raba buah dadanya yang besar itu dan meremasnya dengan gemas, "sss.., teeehh..," desisku agak keras ketika perempuan itu dengan kedua bibirnya menyedot urat di bawah kepala penisku itu, sementara tangannya meremas-remas kedua bolaku, aawwww nikmatnya, aku begitu terangsang sehingga seluruh pori-pori kulitku meremang dan mukaku berwarna merah.

Aku sudah dalam tahap ingin menindih dan sesegera mungkin memasukkan penisku ke dalam vagina perempuan ini tapi semua itu tak mungkin kulakukan di depan kakaknya yang masih duduk di depanku menikmati lalu lalang kendaraan di depan rumahnya. Tiba-tiba bibir teh Tia bergerak dengan cepat ke kepala penisku, sambil terus kupermainkan putingnya kulihat ia membuka mulutnya dengan lebar dan tenggelamlah seluruh penisku ke dalam mulutnya.

Aku kembali mendesis dan meringis sambil tetap duduk di meja makan mendengarkan ocehan orang tua Rudi yang kembali mengajakku berbincang. Mulut teh Tia dengan cepat menghisap dan bergerak maju mundur di penisku. Tanganku menarik dasternya ke atas dari arah punggung sehingga terlihatlah pantatnya yang mulus tidak ditutupi oleh selembar benangpun.

Aku ingin menjamah vaginanya, ingin rasanya kumasukkan jari-jariku dengan kasar ke dalamnya dan kukocok-kocok dengan keras tapi aku sudah tak kuat lagi. Jilatan lidah, kecupan, dan sedotan teh Tia di penisku membuat seluruh syarafku menegang. Tiba-tiba kujambak rambut teh Tia dan kutekan sekuat-kuatnya sehingga seluruh penisku tenggelam ke dalam mulutnya. Kurasakan ujung penisku menyentuh langit-langit tenggorokan teh Tia dan, Creeet, creeett, creeettt, menyemburlah cairan maniku ke mulut teh Tia.

"Ahh, aahh.., aahh.., tetteeehh," Aku meringis dan mendesis keras ketika cairan maniku bersemburan ke dalam mulut teh Tia. Perempuan itu dengan lahap menjilati dan menelan seluruh cairanku sehingga penisku yang hampir layu kembali sedikit menegang karena terus-terusan dijilat.

Aku memejamkan mataku, gilaaaa, permainan ini benar-benar menakjubkan. Ada rasa was-was karena takut ketahuan, tapi rasa was-was itu justru meningkatkan nafsuku. Teh Tia memandang penisku yang sudah agak mengecil namun tetap saja dalam posisi tegak.

"Luar biasa," bisiknya, "Siap-siap nanti malam yah?," katanya sambil bangkit dan beranjak ke dapur. Aku cukup kagum dengan prestasi yang kucapai di rumah ini. Baru 2 bulan di Bandung, aku sudah bisa meniduri 2 orang wanita yang sudah lama tidak pernah menikmati sentuhan lelaki. Dan wanita-wanita itu, aku yakin akan selalu termimpi-mimpi akan besar dan nikmatnya gesekan penisku di dalam vagina mereka. Not bad!!!

- TAMAT -

Baca Kisah Sebelumnya:
Kisah Kenikmatan Tubuh Para Perawat Di Bandung Bagian 1
Kisah Kenikmatan Tubuh Para Perawat Di Bandung Bagian 2
__________________
Baca Cerita Dewasa di Cerita Becek
Reply With Quote
  #2  
Old 03-13-2018, 10:40 AM
manikrahayu manikrahayu is offline
Junior Member
 
Join Date: Mar 2018
Posts: 2
Default

jadi merasa anu gan
Reply With Quote
Reply

Tags
dan, dengan, teh, tia, yang

Thread Tools
Display Modes

Posting Rules
You may not post new threads
You may not post replies
You may not post attachments
You may not edit your posts

BB code is On
Smilies are On
[IMG] code is On
HTML code is Off

Forum Jump


New To Site? Need Help?

All times are GMT +7. The time now is 08:08 PM.

Search Engine Optimisation provided by DragonByte SEO (Lite) - vBulletin Mods & Addons Copyright © 2014 DragonByte Technologies Ltd.